Matius 28:7-15
Sejak awal
penangkapan Yesus di taman Getsemani, para murid mulai tercerai-berai. Mereka
diliputi rasa putus asa, takut, khawatir, dan gelisah. Mereka bersembunyi,
kehilangan pengharapan, bahkan kembali kepada kehidupan mereka yang lama.
Kehidupan seperti ini mencerminkan keadaan rohani yang mati, karena hampir
seluruh aspek hidup tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Para murid
seakan terputus hubungannya dengan Yesus. Padahal, setiap orang yang terputus dari
Yesus berada dalam kondisi seperti orang mati secara rohani, seperti tertulis,
“biarlah orang mati menguburkan orang mati.”
Lalu,
bagaimana respon Allah (respon ilahi) melihat kondisi tersebut?
Respon ilahi adalah tindakan, jawaban, atau reaksi Allah terhadap manusia, baik
dalam keadaan dosa, iman, doa, maupun ketaatan.
Allah tidak
tinggal diam. Melalui malaikat-Nya, Ia menjumpai Maria Magdalena dan Maria
lainnya, lalu memerintahkan mereka untuk memberitakan kabar tentang kebangkitan
Yesus kepada para murid.
Melalui
kebangkitan-Nya, Yesus menunjukkan bahwa Ia rindu kembali memulihkan hubungan
personal dengan para murid. Ia tidak hanya ingin mereka kembali sebagai
pengikut, tetapi mengangkat mereka menjadi saudara dan menjadi bagian dari
keluarga-Nya (ayat 10). Kebangkitan itu menjadi tanda bahwa kehidupan yang
semula “mati” dapat dipulihkan kembali: mereka dipanggil untuk bangkit, hidup
kembali, dan berjalan dalam relasi yang baru dengan Kristus.
Melalui
kebangkitan-Nya, Yesus rindu membangkitkan kita dari berbagai bentuk “kematian”
dalam hidup, yaitu: kematian rohani, jiwa yang lemah, pikiran yang terbelenggu,
sikap hati yang tumpul, serta kehidupan iman yang kehilangan arah. Ia juga
ingin memulihkan gereja dan jemaat, termasuk hamba-hamba Tuhan yang mulai
kehilangan kepekaan, kuasa, otoritas rohani, dan panggilan ilahi. Kebangkitan
Yesus bukan hanya peristiwa di masa lalu, tetapi kuasa yang nyata hingga hari
ini yang sanggup menghidupkan kembali, memulihkan, dan membawa kita masuk dalam
kehidupan yang penuh kemenangan di dalam Dia.
Bagaimana Kita Tahu Bahwa Rohani Kita Sedang “Mati”?
1. Tidak peka terhadap Tuhan
Artinya: hati tidak lagi merespons hal-hal rohani.
Contoh:
-
Mendengar
firman Tuhan tetapi terasa biasa saja, tidak penting, bahkan membosankan. Tidak
ada respon saat mendengar firman atau dalam kegiatan rohani.
-
Jarang bahkan
tidak pernah berdoa, dan tidak merasa membutuhkan Tuhan dalam keputusan
sehari-hari (bahkan dalam hal kecil sekalipun).
-
Saat berbuat
salah, tidak ada rasa bersalah atau dorongan untuk bertobat.
Catatan :
Bila tidak setuju
dengan suatu pengajaran itu merupakan hal yang wajar, tetapi tidak hanya punya
sikap tidak setuju namum harus mau menguji pengajaran tersebut berdasarkan
kebenaran firman Tuhan dan buah yang dihasilkan. Seperti tertulis dalam Alkitab
1 Yohanes 4: 1 "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan
setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab
banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia." Dan jika pengajaran tersebut benar dari Tuhan
dan sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, maka harus dengan rendah hati
menerima dan menghidupi pola yang dibangun lewat pengajaran tersebut.
2. Tidak memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan
Artinya: hidup rohani hanya formalitas, tidak ada
relasi yang hidup.
Contoh:
-
Beribadah hanya
karena kebiasaan atau tekanan, bukan karena kerinduan mengenal Tuhan.
-
Tidak pernah
berbicara dengan Tuhan secara pribadi (doa yang jujur).
-
Lebih
mengandalkan diri sendiri daripada mencari kehendak Tuhan.
Yohanes 15:5 "Akulah pokok anggur dan
kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam
dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat
apa-apa."
3. Hidup dikuasai dosa
Artinya: dosa menjadi pola hidup, bukan sekadar
jatuh sesekali.
Contoh:
- Terus-menerus
melakukan dosa (berbohong, menyakiti, hidup tidak benar) tanpa usaha berubah.
- Terikat pada
kebiasaan buruk atau kecanduan, tetapi tidak mau melepaskannya. Tahu itu salah,
tetapi tetap dilakukan tanpa pergumulan.
- Hal ini sejalan
dengan Alkitab Roma, menjadi “hamba dosa”.
4. Tidak mengalami damai sejahtera sejati
Artinya: terlihat baik di luar, tetapi di dalam
penuh kekosongan.
Contoh:
-
Mudah cemas,
takut, dan gelisah tanpa arah.
-
Mencari
kepuasan dari uang, kesenangan, atau pengakuan, tetapi tetap merasa kosong.
-
Sulit
mengampuni, penuh kepahitan, dan tidak memiliki ketenangan batin.
RESPON ILAHI ATAS KEMATIAN ROHANI
Respon Allah tidak pernah diam. Melalui kebangkitan Yesus Kristus,
Allah memberikan jaminan bahwa setiap orang percaya dapat bangkit dari kematian
rohani dan hidup kembali. Seperti tertulis dalam Alkitab Roma 8:11 “Dan jika
Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam
kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati,
akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam
kamu." Roh yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati adalah Roh
yang sama yang diam di dalam orang percaya, dan yang akan menghidupkan kita, artinya:
kebangkitan bukan hanya milik Yesus tetapi menjadi realitas dalam hidup orang
percaya hari ini.
KUASA KEBANGKITAN DALAM KEHIDUPAN ORANG PERCAYA
1. Kuasa kebangkitan mengalahkan dosa
Dosa membuat manusia terpisah dari Allah. Tetapi
melalui kematian dan kebangkitan Yesus, kuasa dosa dipatahkan. Firman Tuhan
dalam Alkitab Roma menegaskan bahwa maut tidak lagi berkuasa atas Kristus—dan
kita pun dipanggil hidup dalam kemenangan itu. Contoh praktis orang yang dulu
mudah marah dan menyakiti orang lain, sekarang mulai bisa menahan diri dan
belajar mengampuni. Bukan karena kekuatan sendiri, tetapi karena kuasa hidup
baru dari kebangkitan Kristus.
2. Kuasa kebangkitan mengalahkan maut
Maut adalah akibat dosa dan sering dianggap sebagai
akhir dari segalanya. Namun kebangkitan Yesus membuktikan bahwa kematian bukan
akhir ada kehidupan kekal. Seperti tertulis dalam Alkitab 1 Korintus 15:55 "Hai
maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Dampaknya
orang percaya tidak lagi hidup dalam ketakutan akan kematian, karena memiliki
pengharapan kekal.
3. Kuasa kebangkitan mengalahkan Iblis
Iblis bekerja untuk menipu, menuduh, dan memperbudak
manusia. Namun melalui salib dan kebangkitan, kuasanya telah dikalahkan. Seperti
tertulis dalam Alkitab Ibrani 2:14 "Karena anak-anak itu adalah
anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan
mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan
dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;" Yesus memusnahkan Iblis
yang berkuasa atas maut.
Contoh praktis orang yang dahulu hidup dalam
ketakutan atau keterikatan kuasa kegelapan, kebiasaan buruk, kini mengalami
kebebasan dan keberanian, karena kuasa Kristus lebih besar dari kuasa apa pun.
KARENA ITU, RESPON APA YANG HARUS ORANG PERCAYA
LAKUKAN TERHADAP KEBANGKITAN YESUS?
Dari Injil Matius 28:7-15, kita melihat dua jenis respon yang berbeda:
1. Respon Maria Magdalena dan Maria
Saat mendengar dari malaikat bahwa Kristus bangkit,
kedua wanita ini langsung percaya, karena berita itu disampaikan oleh malaikat
Allah. Mereka tidak menunda, tidak meragukan, tetapi taat dan bertindak. Akibatnya
kabar kebangkitan sampai kepada murid-murid. Murid-murid dipulihkan, hingga
akhirnya, banyak orang di seluruh dunia menerima kuasa keselamatan dalam hidup
mereka. Respon iman mereka menjadi awal dari pemulihan yang besar.
2. Respon para tentara penjaga
Para tentara juga mengetahui fakta kebangkitan
Yesus. Namun, respon mereka berbeda. Mereka melaporkan kejadian itu kepada
tua-tua yang berkuasa. Tetapi kemudian mereka memilih menerima uang, menjaga
posisi dan keamanan diri. Bahkan mereka bersedia menyebarkan berita yang tidak
benar, bahwa Yesus tidak bangkit, melainkan dicuri oleh murid-murid-Nya. Mereka
tahu kebenaran, tetapi tidak hidup dalam kebenaran
Bagi para tentara, jika tidak menuruti perintah tua-tua, risikonya kehilangan
pekerjaan bahkan bisa dipenjara. Tetapi bagaimana dengan Maria Magdalena dan
Maria? Apakah mereka tidak punya risiko? Tentu ada. Di satu sisi, para tua-tua yang
memiliki kuasa agama dan pengaruh besar menyatakan “Yesus tidak bangkit,
tetapi dicuri oleh murid-murid-Nya.” Namun di sisi lain, Maria Magdalena
dan Maria menyatakan “Yesus benar-benar bangkit.” Ini berarti mereka berdiri
berlawanan dengan arus kekuasaan. Bahkan bisa membahayakan nyawa mereka. Namun
mereka tetap memilih kebenaran. Ketika orang percaya memilih memiliki respon Ilahi dan menghidupi
kuasa kebangkitan Yesus Kristus bisa
saja akan menghadapi tekanan, disalahpahami, dikatakan sesat, dikritik atau
ditolak, diremehkan bahkan difitnah, tetapi tetaplah berdiri dalam kebenaran
dan memiliki respon Ilahi.
No comments:
Post a Comment