Tuesday, April 28, 2026

RESPON ILAHI

 



Matius 28:7-15

Sejak awal penangkapan Yesus di taman Getsemani, para murid mulai tercerai-berai. Mereka diliputi rasa putus asa, takut, khawatir, dan gelisah. Mereka bersembunyi, kehilangan pengharapan, bahkan kembali kepada kehidupan mereka yang lama. Kehidupan seperti ini mencerminkan keadaan rohani yang mati, karena hampir seluruh aspek hidup tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Para murid seakan terputus hubungannya dengan Yesus. Padahal, setiap orang yang terputus dari Yesus berada dalam kondisi seperti orang mati secara rohani, seperti tertulis, “biarlah orang mati menguburkan orang mati.”

Lalu, bagaimana respon Allah (respon ilahi) melihat kondisi tersebut?
Respon ilahi adalah tindakan, jawaban, atau reaksi Allah terhadap manusia, baik dalam keadaan dosa, iman, doa, maupun ketaatan.

Allah tidak tinggal diam. Melalui malaikat-Nya, Ia menjumpai Maria Magdalena dan Maria lainnya, lalu memerintahkan mereka untuk memberitakan kabar tentang kebangkitan Yesus kepada para murid.

Melalui kebangkitan-Nya, Yesus menunjukkan bahwa Ia rindu kembali memulihkan hubungan personal dengan para murid. Ia tidak hanya ingin mereka kembali sebagai pengikut, tetapi mengangkat mereka menjadi saudara dan menjadi bagian dari keluarga-Nya (ayat 10). Kebangkitan itu menjadi tanda bahwa kehidupan yang semula “mati” dapat dipulihkan kembali: mereka dipanggil untuk bangkit, hidup kembali, dan berjalan dalam relasi yang baru dengan Kristus.

Melalui kebangkitan-Nya, Yesus rindu membangkitkan kita dari berbagai bentuk “kematian” dalam hidup, yaitu: kematian rohani, jiwa yang lemah, pikiran yang terbelenggu, sikap hati yang tumpul, serta kehidupan iman yang kehilangan arah. Ia juga ingin memulihkan gereja dan jemaat, termasuk hamba-hamba Tuhan yang mulai kehilangan kepekaan, kuasa, otoritas rohani, dan panggilan ilahi. Kebangkitan Yesus bukan hanya peristiwa di masa lalu, tetapi kuasa yang nyata hingga hari ini yang sanggup menghidupkan kembali, memulihkan, dan membawa kita masuk dalam kehidupan yang penuh kemenangan di dalam Dia.

Bagaimana Kita Tahu Bahwa Rohani Kita Sedang “Mati”?

1. Tidak peka terhadap Tuhan

Artinya: hati tidak lagi merespons hal-hal rohani.

Contoh:

-          Mendengar firman Tuhan tetapi terasa biasa saja, tidak penting, bahkan membosankan. Tidak ada respon saat mendengar firman atau dalam kegiatan rohani.

-          Jarang bahkan tidak pernah berdoa, dan tidak merasa membutuhkan Tuhan dalam keputusan sehari-hari (bahkan dalam hal kecil sekalipun).

-          Saat berbuat salah, tidak ada rasa bersalah atau dorongan untuk bertobat.

Catatan :

Bila tidak setuju dengan suatu pengajaran itu merupakan hal yang wajar, tetapi tidak hanya punya sikap tidak setuju namum harus mau menguji pengajaran tersebut berdasarkan kebenaran firman Tuhan dan buah yang dihasilkan. Seperti tertulis dalam Alkitab 1 Yohanes 4: 1 "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia."  Dan jika pengajaran tersebut benar dari Tuhan dan sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, maka harus dengan rendah hati menerima dan menghidupi pola yang dibangun lewat pengajaran tersebut.

2. Tidak memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan

Artinya: hidup rohani hanya formalitas, tidak ada relasi yang hidup.

Contoh:

-          Beribadah hanya karena kebiasaan atau tekanan, bukan karena kerinduan mengenal Tuhan.

-          Tidak pernah berbicara dengan Tuhan secara pribadi (doa yang jujur).

-          Lebih mengandalkan diri sendiri daripada mencari kehendak Tuhan.

Yohanes 15:5 "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."

3. Hidup dikuasai dosa

Artinya: dosa menjadi pola hidup, bukan sekadar jatuh sesekali.

Contoh:

-    Terus-menerus melakukan dosa (berbohong, menyakiti, hidup tidak benar) tanpa usaha berubah.

-       Terikat pada kebiasaan buruk atau kecanduan, tetapi tidak mau melepaskannya. Tahu itu salah, tetapi tetap dilakukan tanpa pergumulan.

-         Hal ini sejalan dengan Alkitab Roma, menjadi “hamba dosa”.

4. Tidak mengalami damai sejahtera sejati

Artinya: terlihat baik di luar, tetapi di dalam penuh kekosongan.

Contoh:

-          Mudah cemas, takut, dan gelisah tanpa arah.

-          Mencari kepuasan dari uang, kesenangan, atau pengakuan, tetapi tetap merasa kosong.

-          Sulit mengampuni, penuh kepahitan, dan tidak memiliki ketenangan batin.

RESPON ILAHI ATAS KEMATIAN ROHANI

Respon Allah tidak pernah diam. Melalui kebangkitan Yesus Kristus, Allah memberikan jaminan bahwa setiap orang percaya dapat bangkit dari kematian rohani dan hidup kembali. Seperti tertulis dalam Alkitab Roma 8:11 “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu." Roh yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati adalah Roh yang sama yang diam di dalam orang percaya, dan yang akan menghidupkan kita, artinya: kebangkitan bukan hanya milik Yesus tetapi menjadi realitas dalam hidup orang percaya hari ini.

KUASA KEBANGKITAN DALAM KEHIDUPAN ORANG PERCAYA

1. Kuasa kebangkitan mengalahkan dosa

Dosa membuat manusia terpisah dari Allah. Tetapi melalui kematian dan kebangkitan Yesus, kuasa dosa dipatahkan. Firman Tuhan dalam Alkitab Roma menegaskan bahwa maut tidak lagi berkuasa atas Kristus—dan kita pun dipanggil hidup dalam kemenangan itu. Contoh praktis orang yang dulu mudah marah dan menyakiti orang lain, sekarang mulai bisa menahan diri dan belajar mengampuni. Bukan karena kekuatan sendiri, tetapi karena kuasa hidup baru dari kebangkitan Kristus.

2. Kuasa kebangkitan mengalahkan maut

Maut adalah akibat dosa dan sering dianggap sebagai akhir dari segalanya. Namun kebangkitan Yesus membuktikan bahwa kematian bukan akhir ada kehidupan kekal. Seperti tertulis dalam Alkitab 1 Korintus 15:55 "Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Dampaknya orang percaya tidak lagi hidup dalam ketakutan akan kematian, karena memiliki pengharapan kekal.

3. Kuasa kebangkitan mengalahkan Iblis

Iblis bekerja untuk menipu, menuduh, dan memperbudak manusia. Namun melalui salib dan kebangkitan, kuasanya telah dikalahkan. Seperti tertulis dalam Alkitab Ibrani 2:14 "Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;" Yesus memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut.

Contoh praktis orang yang dahulu hidup dalam ketakutan atau keterikatan kuasa kegelapan, kebiasaan buruk, kini mengalami kebebasan dan keberanian, karena kuasa Kristus lebih besar dari kuasa apa pun.

KARENA ITU, RESPON APA YANG HARUS ORANG PERCAYA LAKUKAN TERHADAP KEBANGKITAN YESUS?

Dari Injil Matius 28:7-15, kita melihat dua jenis respon yang berbeda:

1. Respon Maria Magdalena dan Maria

Saat mendengar dari malaikat bahwa Kristus bangkit, kedua wanita ini langsung percaya, karena berita itu disampaikan oleh malaikat Allah. Mereka tidak menunda, tidak meragukan, tetapi taat dan bertindak. Akibatnya kabar kebangkitan sampai kepada murid-murid. Murid-murid dipulihkan, hingga akhirnya, banyak orang di seluruh dunia menerima kuasa keselamatan dalam hidup mereka. Respon iman mereka menjadi awal dari pemulihan yang besar.

2. Respon para tentara penjaga

Para tentara juga mengetahui fakta kebangkitan Yesus. Namun, respon mereka berbeda. Mereka melaporkan kejadian itu kepada tua-tua yang berkuasa. Tetapi kemudian mereka memilih menerima uang, menjaga posisi dan keamanan diri. Bahkan mereka bersedia menyebarkan berita yang tidak benar, bahwa Yesus tidak bangkit, melainkan dicuri oleh murid-murid-Nya. Mereka tahu kebenaran, tetapi tidak hidup dalam kebenaran

Bagi para tentara, jika tidak menuruti perintah tua-tua, risikonya kehilangan pekerjaan bahkan bisa dipenjara. Tetapi bagaimana dengan Maria Magdalena dan Maria? Apakah mereka tidak punya risiko? Tentu ada. Di satu sisi, para tua-tua yang memiliki kuasa agama dan pengaruh besar menyatakan “Yesus tidak bangkit, tetapi dicuri oleh murid-murid-Nya.” Namun di sisi lain, Maria Magdalena dan Maria menyatakan “Yesus benar-benar bangkit.” Ini berarti mereka berdiri berlawanan dengan arus kekuasaan. Bahkan bisa membahayakan nyawa mereka. Namun mereka tetap memilih kebenaran. Ketika orang percaya  memilih memiliki respon Ilahi dan menghidupi kuasa kebangkitan Yesus Kristus bisa saja akan menghadapi tekanan, disalahpahami, dikatakan sesat, dikritik atau ditolak, diremehkan bahkan difitnah, tetapi tetaplah berdiri dalam kebenaran dan memiliki respon Ilahi.


No comments:

Post a Comment

RESPON ILAHI

  Matius 28:7-15 Sejak awal penangkapan Yesus di taman Getsemani, para murid mulai tercerai-berai. Mereka diliputi rasa putus asa, takut, ...